Jumat, 25 Juni 2010

Indonesia Pinjam $300 Juta dari Prancis

Indonesia menerima pinjaman 300 juta dolar AS dari Agence Francaise de Develompment (AFD) untuk mendukung implementasi matrix policy dalam rangka program climate change di Indonesia.

Perjanjian pinjaman itu ditandatangani Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto dan Direktur AFD di Indonesia Joel Daligault di Gedung AA Maramis Kementerian Keuangan Jakarta.



Tujuan pinjaman program perubahan iklim adalah untuk mendukung reformasi kebijakan yang sedang berjalan dalam menghadapi berbagai isu perubahan iklim melalui sejumlah sasaran/kegiatan yang termaktub dalam kerangka tiga tahunan matix policy.

Matrix policy tiga tahunan itu mencakup bidang mitigasi (kehutanan, energi), adaptasi (pertanian, air), dan isu-isu lintas sektoral.

Pertemuan terakhir komite pengarah Pinjaman Program Perubahan Iklim (CCPL) menyetujui hasil kegiatan tahun 2009 yang memuaskan dan telah memutuskan beberapa sasaran dan kegiatan untuk 2010.

Rahmat Waluyanto menyebutkan, pada 2008 dan 2009, AFD telah memberikan pinjaman tahap pertama dan kedua sebesar 200 dan 300 juta dolar AS, dalam pendanaan bersama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA akan turut memberikan pinjaman sebesar 300 juta dolar AS untuk mendukung tahap ketiga ini.

Bank Dunia juga akan bergabung dengan CCPL mulai 2010 ini, dengan kontribusi sebesar 200 juta dolar AS. AFD merupakan institusi keuangan untuk pembangunan untuk melawan kemiskinan dan mendukung pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang dan wilayah Prancis di luar negeri.

Indonesia Berutang 1,9 Miliar Dollar Untuk Dana Perubahan Iklim

Indonesia Berutang 1,9 Miliar Dollar Untuk Dana Perubahan Iklim


Akibat dampak perubahan iklim membuat pemerintah terpaksa harus kembali menambah utang dari negara maju sekitar 1,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dalam periode tiga terakhir ini.

"Total pinjaman program perubahan iklim atau CCPL mencapai 1,9 miliar dolar AS," kata Direktur Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Maurin Sitorus, di Gedung AA Maramis Kemenkeu, Jakarta, Kamis seperti dilansir Antara.

Maurin merinci, jumlah 1,9 miliar dolar AS itu terdiri dari total pinjaman dari Perancis sebesar 800 juta dolar AS, Jepang 900 juta dolar AS, dan dari Bank Dunia senilai 200 juta dolar AS.

Maurin mengungkapkan, tiga kreditur itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) juga sudah menyatakan keinginannya untuk bergabung memberikan pinjaman program perubahan iklim kepada Indonesia.

"ADB mungkin mulai bergabung 2011, belum ada komitmen, mereka baru menyatakan ketertarikan kepada program CCPL di Indonesia," katanya.

Lebih lanjut Maurin menjelaskan bahwa pinjaman CCPL masuk ke dalam pinjaman program dan bukan ke dalam pinjaman proyek.

"Uang ini nanti masuk ke kas negara untuk menutup defisit APBN. Kalau pemerintah perlu tinggal ngambil dari sini. Dana itu tidak ditujukan khusus untuk suatu proyek/kegiatan tertentu," katanya.

Ia menyebutkan, kreditur memberikan pinjaman dengan persyaratan lunak karena pemerintah memiliki policy matrix terkait perubahan iklim.

"Kita dapat reward saja karena kita punya program yang bagus, kontrolnya hanya di kebijakan yang ditempuh pemerintah, apa sudah ditempuh atau belum," katanya.

CCPL terakhir yang ditandatangani Indonesia adalah dari Prancis dengan jumlah sebesar 300 juta dolar AS.

"Pinjaman ini merupakan pinjaman dengan special rate atau lebih murah dibanding lain. Tenor pinjaman selama 15 tahun dengan grace periode lima tahun," kata Maurin.

Rencana Global Gagal Menangkap Karbon



Dunia gagal mewujudkan sasaran untuk mengembangkan teknologi guna menangkap karbon, kata pengawas energi negara ekonomi industri, Senin (14/6), saat lembaga itu melapor kembali ke negara G8 mengenai janji masa lalu mereka.

Pada pertemuan puncak di Jepang dua tahun lalu, delapan negara ekonomi terkemuka di dunia mendukung sasaran Badan Energi Internasional (IEA) untuk meluncurkan 20 proyek berskala besar guna memperlihatkan teknologi untuk menangkap dan menyimpan karbon paling lambat pada 2010.

Pada kenyataannya, hanya lima proyek semacam itu yang beroperasi saat ini, semuanya dilancarkan sebelum pertemuan puncak 2008, kata penasehat IEA kepada 28 negara maju sebelum pertemuan puncak G8 di Kanada pekan depan.

Tak satu pun dari proyek yang ada tersebut melakukan uji-coba rangkaian penuh pemrosesan CCS, yang melibatkan penangkapan dan kemudian penyaringan serta penyimpanan buangan karbon di bawah tanah dari pembangkit listrik tenaga gas dan batu bara.

"(Sasaran 2010) tetap menjadi tantangan dan akan mengharuskan semua pemerintah dan sektor industri bekerja sama," kata IEA dalam satu laporan ke pertemuan puncak Kelompok 8 Negara Industri (G8) di Kanada, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters seperti dilansir Antara.

Namun, satu proyek baru Australia telah meluncurkan dan melanjutkan pembangunan guna mengujicoba proses penuh CCS. Yang juga menjadi catatan positif, IEA memperkirakan pemerintah telah menyampaikan komitmen selama dua tahun belakangan untuk menyediakan 26 miliar dolar AS, dengan keperluan anggaran tahunan antara 5 miliar dan 6,5 miliar dolar AS selama satu dasawarsa selanjutnya.

IEA menyatakan bahwa CCS adalah teknologi penting guna memerangi perubahan iklim karena itu dapat memungkinkan negara berkembang terus membakar pasokan batu bara murah dan tetap mengekang buangan karbon, saat mereka berusaha menumbuhkan ekonomi mereka.

Negara berkembang sekarang menjadi sumber utama global peningkatan buangan gas rumah kaca. IEA memperkirakan bahwa sebanyak 100 proyek CSS berskala besar diperlukan di seluruh dunia paling lambat pada 2020, sebanyak separuhnya di negara berkembang, guna memelihara ambang aman perubahan iklim.

Laporan yang dikeluarkan Senin (14/6) memperhitungkan bahwa pemerintah terikat komitmen antara 19 dan 43 proyek besar paling lambat pada 2020, dan menyampaikan perkiraan lain mengenai 80 proyek dalam berbagai tahap pembangunan.

"Upaya yang jauh lebih besar akan diperlukan guna memenuhi tingkat penggelaran masa depan," katanya.

Kenapa baterai bekas gak boleh dibuang ke tempat sampah?

Kenapa baterai bekas gak boleh dibuang ke tempat sampah?

Coba perhatikan, ada berapa banyak barang di rumah kita yang menggunakan baterai? Ada mainan, jam tangan, jam dinding, ponsel, remote TV, kamera, iPod, dll. Lalu, apa yang kita lakukan jika baterai sudah tidak bisa dipakai lagi?

Ternyata kita semua membuang baterai ke tempat sampah, padahal itu berbahaya sekali loh! Kenapa?



Sampah baterai sesungguhnnya termasuk sebagai sampah B3 (Bahan Berbahaya & Beracun), karena di dalamnya mengandung berbagai logam berat, seperti merkuri, mangan, timbal, kadmium, nikel dan lithium, yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan kita.

Baterai bekas yang dibuang ke TPS atau TPA akan mencemari tanah, air tanah, sungai, danau...dan akhirnya meracuni air yang kita pakai untuk minum, mandi dan mencuci. Hiiiy...serem kan??!

Lalu, apa yang harus dilakukan?
Jangan buang sampah baterai ke tempat sampah. Kumpulkanlah sampah baterai di rumah/kantor, lalu berikan ke tempat pengumpulan baterai.

Jenis sampah baterai yang dikumpulkan:
- baterai ukuran AA, AAA, C & D
- baterai jam tangan (yang kecil seperti tablet)
- baterai lithium: baterai HP, kamera digital, baterai laptop, dll
- baterai rechargeable

Untuk apa sampah baterai dikumpulkan?
Sampah baterai akan diserahkan kepada pihak penyedia jasa pengelolaan sampah B3 (bahan berbahaya & beracun) yang sudah memenuhi standar manajemen limbah, yaitu WMI - Waste Management Indonesia. Sebagian besar komponen baterai akan didaur ulang, sementara komponen seperti kadmium dan mangan akan dinetralisir dan kemudian dikubur dengan mekanisme yang sudah memenuhi standar manajemen limbah agar tidak mencemari air tanah.

Efisiensi energy listrik dimulai dari rumah tangga

Efisiensi energy listrik dimulai dari rumah tangga

Seperti kata orang orang dahulu mulailah dari diri sendiri, begitu pula dengan energy mulailah dari sendiri. Dalam energy yang harus kita efisienkan terutama energy yang tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar minyak dan batubara yang merupakan bahan bakar pembangkit listrik. Energy listrik sebagai bahan bakar setiap rumah harus diefisienkan juga. Konsumsi terbesar diperkotaan energy listrik adalah untuk AC,kemudian pompa air, dan lampu.

AC sangat menyedot energy listrik dikarenakan kompresor yang bekerja maksimal dan memacu kerja motor listrik yang tinggi. Untuk itu AC harus kita kurangi dan kita sadari bahwa kita harus hemat energy. Sirkulasi udara yang baik dapat menghindari kita untuk menggunakan AC yang maksimal. Kemudian pompa air yang menggunakan motor, sebaiknya dibuat penampungan air yang cukup agar pompa tidak bekerja terus terusan. Lampu disiang hari sebaiknya di hindari lebih baik menggunakan cahaya matahari.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam effsiensi ini antara lain :



1. Sejak kecil anak kita, kita ajarkan mengenai hemat energy terutama mengenai praktek dengan mencontohkan untuk berhemat, ya dengan member contoh karena anak biasanya meniru perbutan orang tuanya jika orang tuanya tidak hemat anak cenderung untuk tidak hemat.
2. Ajarka pengetahuan mengenai listrik dari mana listrik itu berasal dan dengan apa listrik itu dihasilkan, ya dengan pengorbanan yang cukup sulit sehingga kita akan merasa sayang jika listrik itu terbuang dengan percuma.
3. Menciptakan energy listrik sendiri terutama untuk energy yang dapat diperbaharui seperti matahari, air udara, sampah tenaga hewan atau manusia karena energy ini dapat di perbaharui dengan mudah, ya jadi ajarkan kepada kita cara menghasilkannya.
4. Promosikan dengan gencar baik oleh pemerintah maupun swasta, jadi semakin sering kita di nasehati, kemungkinan kita akan sadar, ibarat batu yang sering di tetesi air sekeras apapun batu yang sering ditetesi air yang lunak akan melubangi batu itu, demikian pula denga kita, walaupun kita kecil tapi sering saya yakin kita akan bisa berhemat.
5. Mulai dari diri sendiri, ya mulai dari saya, jika saya mampu kemudian keluarga kita jika keluarga kita mampu ketetangga kita dan seterusnya.
6. Gunakan listrik pra bayar, yakni listrik yang kita beli dahulu dan kita dapat daya dari PLN. Ini sangat membantu karena kita dapat mengontrol kebutuhan listrik yang akan kita gunakan. Sayang promosi listrik pra bayar ini kurang gencar sehingga hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya.
Demikian pemikiran mengenai hemat energy,

Kiat Mengatasi Pemadaman Bergilir

Kiat Mengatasi Pemadaman Bergilir

Saat ini tahun 2010, di televisi kita saksikan pada siaran berita banyak masyarakat yang protes kepada PLN mengenai pemadaman bergilir, bahkan ada yang berbuat anarkis dengan membakar kantor PLN. Saya tidak mendukung PLN atau masyarakat yang protes dengan pemadaman bergilir namun saya ada sedikit gambaran mengenai kelistrikan di negeri kita, yang jika kita terapkan menurut saya akan lebih baik dan bijaksana.
Ingin tahu? Baca yaa..


Sejak sekolah dasar kita sudah diajarkan listrik berasal dari mana, ya ada sumber daya listrik yakni sumber arus searah (DC) dan sumber arus bolak balik (AC). Sumber listrik searah kebanyakan dihasilkan dari bahan bahan kimia seperti seperti ACCU atau kita menyebutnya dengan aki, ada beberapa jenis ACCU yakni accu kering dan ACCU basah, biasanya ACCU kering jika sudah terjadi reaksi kimia tidak dapat di daur ulang sedangkan ACCU basah bisa dig anti cairanya dan dapat berfungsi lagi. Sedangkan sumber listrik arus bolak balik di hasilkan dari pemotongan medan magnet para nrangkaian magnet, sumber AC ini dihasilkan dari energy gerak karena jika ingin memotang medan magnet maka harus ada gerakan, jadi stiap gerakan akan menghasilkan energy AC.

PLN atau Perusahaan Listrik Negara memproduksi energy AC dan di didistribusikan ke masyarakat, jika beban lebih besar daripada sumber, terpaksa PLN memadamkan beban artinya pelanggan tidak mendapat aliran listrik.

Dari penjelasan diatas jika listrik yang dihasilkan oleh PLN mengalami kekurangan kita tidak perlu khawatir karena listrik dapat kita hasilkan kapan saja jika di daerah kita terdapat sumber alam zat kimia kita bisa menghasilkan listrik dengan sumber DC. Begitu pula denga sumber DC setiap gerakan akan menghasilkan sumber AC.

Yang paling mudah adalah menghasilkan energy listrik AC, kenapa karena dengan medan magnet dan gerakan kita dapat menghasilkan listrik. Kita tahu kita hidup dengan bergerak jadi setiap gerakan kita akan menghasilkan listrik. Seperti hukum kekekalan energy tidak ada energy yang terbuang energy yang kita keluarkan akan kita rubah menjadi energy lainya. Mudah bukan.

Nah jika PLN mematikan sumber listrik kita tak perlu khawatir karena kita bisa menghasilkan listrik jika kita mau. Jadi dari pada demo mendingan kita diskusi untuk mengasilkan energy listrik yang sangat mudah kita hasilkan, tapi jangan diskusi aja langsung kita kumpulkan dana dan kita produksi listrik dan dibagi bagi kemasyarakat.

Untuk PLN tolong dong ajarkan ke masyarakat agar dapat menghasilkan listrik, jika kita sudah punya energy listrik sendiri gak perlu beli kePLN lagi. Atau kita bisa jual ke PLN mungkin ini lebih baik.

Rapid dan Slow Mixing pada Instalasi Pengolahan Air Minum (Part 02)

Rapid dan Slow Mixing pada Instalasi Pengolahan Air Minum (Part 02)

Rapid dan Slow Mixing pada Instalasi Pengolahan Air Minum (Part 02)

Sesuai dengan namanya, di unit ini terjadi pengadukan dengan intensitas rendah atau lambat dengan gradasi menurun. Unit ini pun sering disebut flokulator dan fungsinya untuk meningkatkan jumlah kontak antarpartikel yang sudah dikoagulasi dengan cara pengadukan (agitation) yang gradien kecepatannya makin lambat dan waktunya lebih lama dibandingkan dengan rapid mixing. Selama agitasi ini mikroflok berkembang menjadi makroflok yang berat sehingga mudah mengendap. Kerapkali terjadi, karena pertumbuhan floknya begitu cepat, endapannya sudah menumpuk di bagian akhir flokulator sebelum masuk ke unit sedimentasi (klarifikasi). Tentu saja endapan di flokulator ini tidak diharapkan karena fungsinya hanya sebagai penumbuh flok. Oleh sebab itu, unit flokulator hendaklah dilengkapi dengan pipa penguras (drain pipe) agar mudah dibersihkan.
Ingin tahu lebih lanjut?


Seperti pada rapid mixing, ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk dijadikan mode flokulator, yaitu cara hidrolis dan mekanis. Kekecualiannya adalah pada cara pneumatis, sebab tidak bisa (sulit sekali) diterapkan lantaran agitasinya sangat tinggi sehingga gradien kecepatannya pun tinggi yang menyulitkan pertumbuhan flok. Dua cara di atas, yaitu hidrolis dan mekanis, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga pilihan yang tepat bergantung pada sejumlah pertimbangan seperti kualitas air baku, debit yang diolah, energi potensial (berkaitan dengan aliran secara gravitasi), tenaga operator, biaya investasi, operasi dan perawatannya. Bisa juga didasarkan pada pertimbangan penyediaan sarana penelitian untuk perkembangan ilmu dan teknologi pengolahan air. Untuk poin terakhir ini, barangkali peran PDAM perlu lebih ditingkatkan sehingga memiliki laboratorium lapangan tentang pengolahan air.

Apapun jenis atau tipenya, flokulasi selalu dipengaruhi oleh kriteria desain yang diadopsi. Begitu juga, pada satu jenis flokulator dapat saja dibuat beberapa macam modus operasi. Misalnya, pada tipe hidrolis, modusnya bisa bermacam-macam, seperti helikal, naik-turun, berkelok, flokufiltrasi, dll. Meskipun demikian, umumnya ada dua mekanisme utama dalam flokulasi, yaitu perikinetik dan ortokinetik. Perikinetik terjadi karena gerakan random termis (thermal) molekul air yang efektif terjadi pada partikel berukuran 1 s.d 2 mikron. Ortokinetik dipengaruhi oleh gradien kecepatan, gerak air atau energi dissipasi yang diberikan ke dalam air. Mekanisme kedua adalah fenomena utama dalam pengolahan air. Selain itu, gerakan zigzag dan kecepatan yang variatif menyebabkan tabrakan atau benturan antarpartikel atau flok sehingga bisa juga menyebabkan penggumpalan (agregasi flok) seperti terjadi pada sludge blanket atau upflow solid contact clarifier.

Mekanisme benturan antarpartikel ini dijelaskan oleh teori Smoluchowski (1916) yang modelnya dapat dianalisis dengan diferensial-integral yang menghasilkan simpulan bahwa jumlah tabrakan bergantung pada jumlah partikel, gradien kecepatan, dan diameter partikel. Hubungan serupa, yakni masih berkaitan dengan jumlah partikel dan gradien kecepatannya, dinyatakan oleh Camp & Stein dengan formula seperti yang ditulis pada artikel sebelumnya. Selanjutnya Camp mengemukakan bahwa konsentrasi dan ukuran flok dipengaruhi oleh gradien kecepatan dan waktu. Gradien kecepatan yang tinggi dapat merusak flok yang telah terbentuk menjadi mikroflok atau bahkan menjadi partikel koloid lagi.

Dalam flokulasi jumlah partikel yang berbenturan atau tabrakan merupakan langkah awal pembentukan flok dan merupakan fungsi dari gradien kecepatan dan waktu detensi. Rentang gradien kecepatan dan waktu detensi yang biasa digunakan dalam desain diberikan pada Tabel 2.

Dalam bahasan selanjutnya diberikan beberapa jenis flokulator yang banyak dibuat di PDAM dan ada juga yang baru dalam skala pilot atau bahkan skala laboratorium di perguruan tinggi. Buku Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment karya Ronald Droste (1997) menguraikan dengan cukup lengkap beberapa flokulator yang sudah diterapkan, minimal dalam skala pilot. Beberapa di antaranya diberikan di bawah ini.

Paddle flocculator. Jenis ini biasanya untuk instalasi berkapasitas sangat besar dengan kualitas air permukaan yang fluktuatif. Setiap ruangnya berisi paddle yang jumlahnya bervariasi, bergantung pada nilai G yang diinginkan terjadi di dalam pengolahannya. Unit ini ada yang paddle-nya searah dengan aliran air dan ada juga yang tegak lurus terhadap arah aliran air. Kedalaman ruang atau kompartemennya juga ada yang sama atau datar dan ada yang makin dalam atau menurun dengan kemiringan tertentu. Biaya investasi, operasi, dan perawatannya sangat mahal, sarat dengan teknologi sehingga hanya cocok untuk kota besar.

Pipe flocculator. Ini termasuk jenis yang jarang diterapkan di PDAM atau malah belum ada yang menerapkannya. Pipa yang dijadikan flokulator ini dapat dibentuk dengan pola apa saja, apalagi kalau yang digunakan adalah pipa yang elastis, misalnya berbahan HDPE. Jenis yang "menantang" untuk diterapkan di PDAM adalah flokulator pilin (Helical Flocculator, MAM edisi Desember 2006). Malah bentuknya, seperti ditulis dalam MAM edisi tersebut, dapat memperindah instalasi agar tidak “kaku” dan "menjemukan". Unit yang dalam skala laboratorium sudah dijadikan objek penelitian di perguruan tinggi ini menghasilkan kinerja yang memuaskan.

Berikutnya adalah Upflow Solid Contact Clarifier. Di dalam unit ini terjadi tiga macam proses operasi, yaitu rapid mixing, slow mixing, dan klarifikasi. Pada bagian klarifikasi timbul lapisan lumpur (sludge blanket) sehingga dapat menghalangi dan menangkap mikroflok. Kesulitan unit ini adalah pada proses penumbuhan lapisan lumpur dan menjaganya agar tetap stabil ketika dibersihkan. Yang masih tergolong flokulator hidrolis adalah Alabama Flocculator. Kali pertama unit ini dibuat di Alabama dan sukses diterapkan di Amerika Latin. Pebble Bed Flocculator. Ini termasuk yang unik dalam pengolahan air. Flokulasi terjadi di dalam rongga antarbutir kerikil, mirip dengan filtrasi. Hanya saja, media butirnya jauh lebih besar daripada media filter, bahkan lebih besar daripada roughing filter. Mekanisme alirannya mengikuti formula yang biasa diterapkan dalam desain dan operasi filter konvensional, khususnya rapid sand filter.

Ada satu lagi yang termasuk hidrolis yaitu Surface Contact Flocculator. Bermula dari India, unit ini lebih diarahkan untuk mengolah air berdebit kecil. Kesulitan operasi pada pebble bed flocculator berupa sumbatan (clogging), tidak terjadi pada unit ini. Terdiri atas pelat dan sekat yang dipasang zigzag atau selang-seling untuk mendapatkan proses pengadukan, model flokulator ini menunggu untuk diteliti dalam skala laboratorium maupun pilot. Adakah PDAM yang bersemangat mendukungnya? Yang terakhir adalah Baffled Channel. Jenis ini adalah flokulator yang relatif banyak di PDAM, baik yang aliran airnya turun-naik maupun yang berkelok. Berikut diberikan contoh flokulator kanal kelok yang dibangun di PDAM Kota Tarakan, diterbitkan atas seizin direksinya.